in Campus Life, Teach For Indonesia

Day #1 at KOPAJA

5871

Yoo, kali ini gue baru ngepost lagi nih setelah sekian lama dan kali ini gue akan bahas mengenai kegiatan mengajar gue ke KOPAJA. Ini merupakan tugas gue dan temen-temen gue juga sebagai kegiatan sosial. Yuk dibaca saja kenapa sih gue ketemu KOPAJA dan apa yang terjadi selanjutnya?

533942_234678216674128_1513326210_n

Kenapa kami memilih KOPAJA? Awalnya kami tahu mengenai KOPAJA ini dari internet, sebuah blog (klik disini). KOPAJA itu apa sih? Bukan sejenis bis yang berwarna hijau tetapi merupakan Komunitas Peduli Anak Jalanan/Marjinal. Yak, sesuai namanya ini merupakan komunitas dimana sebagai wadah untuk anak-anak jalanan / marjinal yang secara ekonomi tidak dapat duduk di bangku sekolah. Kami melihat mereka lebih membutuhkan kami dalam hal pendidikan.

Disini juga kami datang tidak membawa banyak hal melainkkan ilmu yang kami dulu dapatkan, untuk dibagikan kembali, tidak sekedar mengajar ilmu pengetahuan formal tetapi juga pengetahuan umum.
Pelaksanaannya pun kami lakukan tiap hari minggu dari tanggal 29 maret sampai 26 april bertempat di Jalan Rawamangun Muka, Jakarta Timur, tepat disebelah kampus Magister UNJ. Kami datang pun tidak langsung menemui tempatnya tetapi harus menelurus kedalam area kumuh dimana tepatnya sebagai tempat tinggal pemulung yang mengolah sampah plastik.

Hari Pertama, 29 Maret 2015

Pertemuan pertama ini, kami dikejutkan dengan banyaknya anak-anak yang ada. Mereka terlihat bergembira walaupun diungkapkannya bukan seperti gembira yang kami pikirkan. Terlihat raut mukanya seperti lelah karena paginya belajar dan gembira karena ketemu orang baru. Unik disini karena anak-anak antusias melihat wajah-wajah pengajar baru.

Karena waktu sudah siang dan udara juga terasa panas, kami tidak menunggu lama lagi dan langsung memulai dengan perkenalan diri. Anak-anak sangat senang sekali sampai mengharapkan kalau sesi ini bukan sesi belajar seperti tadi pagi. Kami sempat kewalahan karena ruangan kecil ditambah berisiknya anak-anak, berlarian sana-sini. Tapi kami dapat mengendalikan anak-anak tersebut dengan membuat kelompok-kelompok kecil.

Sebelumnya saya pernah mengajar juga dan ternyata kondisi tidaklah sama walaupun secara tempat ini lebih lengkap, ternyata kenakalan anak disini lebih tinggi sehingga harus mencari cara untuk melakukan pendekatan.

Di ruangan sebelah, kami mengelompokkan anak-anak yang ingin bermain gitar. Mereka terlihat antusias. Berhubung saya tidak bisa bermain gitar, sesi ini dipimpin oleh teman saya.

Akhir sesi, terlihat muka anak-anak yang menginginkan kami untuk datang lagi.

IMG_8872IMG_8873IMG_8877IMG_8881IMG_8882IMG_8889IMG_8891

Write a Comment

Comment