in RF

Pilihan 2

Malam hari pun tiba. Aku kembali masuk ke ruangan khusus ku. Walaupun besok ada ulangan tetapi aku tak menghiraukannya. ‘Ulangan Matematika? Cih. Tidak perlu lihat soalnya pun aku bisa mendapatkan nilai 100.’ Aku login ke dalam dunia RF ku. “Frost, lagi ada dimana?” terdengar suara seorang pria di ruanganku. “Markas, bosen saya. Tidak ada aktifitas khusus dari Dewan maupun Race Manager. Kamu lagi dimana Shin?” “Di belakangmu.” Tiba-tiba dia memukul bahuku dari belakang. “Kau! Membuatku kaget saja. Untung saja force ku tadi tidak keluar.” Teriak ku sambil mengeluarkan staff ku. “Hahaha…hahaha. Sorry-sorry. Ayo kita patroli di Tanah Elf.” Ujarnya sambil berjalan ke portal markas. “Ya, saya segera menyusul kesana.” Aku pun menghampiri salah satu NPC Sundries. NPC di sini bukan NPC biasa. Bisa di ajak bicara, bahkan bisa menawar harga potion atau senjata. Biasanya ada harga khusus bagi orang tertentu. “Berapa totalnya?” tanyaku. “Semuanya 25 juta disena.” Jawab NPC tersebut. Aku langsung mengambil sebuah alat kecil dari tas ku. Alat tersebut bekerja seperti ATM. Aku membayarnya lewat alat tersebut. “Sudah masuk uangnya. Terima Kasih.” “Sama-sama.” Lalu aku ke portal markas dan memilih tempat ke Sette.

Sette adalah sebuah gurun sebenarnya, tetapi karena tanahnya amblas maka terlihat bangunan tua. Menurut sejarah, bangunan tersebut di bangun oleh bangsa pendahulu tetapi mengalami kehancuran. Sekarang hanya diisi oleh Turncoat dari masing-masing bangsa. Aku pun berjalan lurus terus sehingga menuju Windy Lowland lalu keluar melewati Sette Ruins dan sampai di Nadir Plain. Portal Elven tidak terlihat, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaan portalnya dan juga untuk ke sana diperlukan sebuah artifak khusus. “Akhirnya sampai juga di Tanah Elven. Sudah lama sekali saya tidak bermain ke sini. Shin, kamu dimana?” tanya ku sambil berjalan menuruni tangga di Elven. “Shin? Oi jangan becanda. Jawab oi.” Tanya ku lagi. Tidak ada jawaban dari Shin dan tiba-tiba semuanya gelap. ‘Ada apa ini! Kepala ku sakit! Argh!’ Tiba-tiba aku pun terputus dari RF dan aku pun jatuh pingsan.

‘Dimana aku? Kenapa tubuhku terasa berat.’ Aku pun berusaha untuk bangkit. Suasana sungguh dingin. Sekelilingku tidak ada apa-apa dan semuanya berwarna putih. Aku pun hanya bisa melihat sekeliling. Terdengar suara langkah kaki. “Siapa itu!” teriak ku. Tidak ada balasan dan langkah kaki itu terdengar makin keras. Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan orang dan juga dia memakai baju jirah putih tetapi dikelilingi aura gelap. “Siapa kamu!” teriak ku ke orang tersebut tetapi tidak di balas dan dia semakin mendekat. Tiba-tiba dia mengeluarkan senjata seperti sebuah pedang panjang. “Matilah!!”

“HAAAAAAAAAAAAAAAAH!” tiba-tiba aku terbangun. ‘Mimpi apa tadi! Kenapa aku mau di bunuh!’ gumam ku. ‘Sejak kapan aku ada di kamar? Sepertinya aku tadi sedang bermain.’ “Kamu tadi tertidur. Jadi Mami pindahin ke kamar kamu.” “Lho? Bukannya aku tadi sedang bermain.” Tanya ku bingung. “Iya tetapi kamu tadi tertidur, mungkin kamu butuh istirahat. Main melulu sih.” Lalu Mami ku keluar dari kamar ku. Aku pun langsung mengambil HP ku di samping tempat tidur. ‘Sudah jam 9 malam. Ada SMS sepertinya.’ Aku pun mengecek folder SMS ku. ‘Jadi kamu sabtu mau jalan sama aku?’ tanya Lecia dalam SMS tersebut. ‘Ini anak! Tidak!!!!’ gumamku kesal dalam hati. ‘Iya-iya. Aku jalan sama kamu sabtu nanti.’ Balas ku dan belom ada 30 detik sudah di balas SMS ku tadi. ‘Asik! Makasih yah!’  balas Lecia. ‘Yah, mungkin aku harus bergaul.’ Dan aku pun langsung tidur.

 

Write a Comment

Comment